Abang None Buku 2017

Berbicara mengenai Literasi, banyak sekali data data riset yang menunjukkan posisi Indonesia "agak terbelakang" bila dibandingkan dengan dengan negara negara lain. Sebagai negara besar dan memiliki penduduk terbanyak  ke 4 dunia, minimnya minat membaca sedikit banyak dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusianya. SDM yang berkualitas rendah, bisa menimbulkan berbagai problema di masyarakat. 


Yuk kita lihat beberapa data riset tersebut :   Sementara itu data survey yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2011 juga menemukan bahwa indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001 % yang artinya diantara 1000 orang hanya 1 orang yang dapat dikategorikan sebagai seorang pembaca yang serius. 

Ada juga hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Bahkan Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar. 

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. Menurut data World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi  Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti! 


Untungnya, masyarakat dan pemerintah tidak tinggal diam terhadap kondisi seperti ini, saat ini banyak sekali penggiat literasi yang bertebaran diseantero Indonesia. Mereka bergerak secara swadaya. Dengan semangat berbagi mereka mendirikan Taman Bacaan Masyarakat di tengah tengah pemukiman. Begitu pula dengan program pembangunan RPTRA yang memiliki fasilitas perpustakaan di suatu kelurahan, setidaknya dapat membantu akses masyarakat terhadap bahan bacaan.  Untuk mengatasi ketertinggalan di bidang literasi ini, memang diperlukan kerjasama masyarakat, pemerintah dan swasta agar bisa diciptakan program program yang berkesinambungan. 


Pemerintah Propinsi DKI Jakarta memiliki suatu program yang cukup menarik dalam menggalakkan program Literasi di Jakarta, yaitu dengan melakukan ajang pemilihan Abang None Buku, yang nantinya dapat mejadi kader penggerak gerakan literasi di Jakarta. Beberapa hari lalu, saya berkesempatan menjadi narasumber untuk memberikan pembekalan kepada 50 finalis Abang None Buku yang mewakili 5 wilayah kotamadya di DKI Jakarta. Acara pembekalan ini berlangsung di Perpustakaan Umum Daerah Cikini. 


Pada kesempatan itu ada beberapa hal yang saya sampaikan, antara lain, bahwa gerakan literasi kekinian bukanlah hanya berkaitan dengan minat baca semata, tetapi juga pada kemampuan memahami intisari bacaan, kemampuan menulis dan juga kemampuan untuk menyampaikan apa apa yang sudah dibacanya baik secara lisan ataupun tulisan untuk menginspirasi orang lain. 

Mereka juga harus mampu menjadi "agent of change" yang siap menjadi teladan,  membangun kemauan ditengah tengah masyarakat dan bahkan harus siap menjadi pendorong utama gerakan literasi itu sendiri. Para finalis yang merupakan generasi milenial ini, tentunya sangat kental dengan social media, untuk itu, saya juga dorong mereka agar berkarya di sosial media melalui tulisan tulisannya yang positif, memperhatikan etika dan menghindari plagiarisme yang sempat menghebohkan jagad dunia maya kita.

Besok, Jumat, 8 September 2017 adalah ajang final pemilihan. Menang atau tidak menang, nama kalian telah terpatri sebagai bagian dari pribadi pribadi yang memilki komitmen terhadap gerakan literasi, semoga dapat berkontribusi aktif dalam gerakan literasi di Ibukota tercinta ini. Salam Literasi dan Selamat Berjuang ! 

Musashi dan Strategi Pemasaran

Secara tidak sengaja saya menemukan bebrapa buku lawas yang dulu kerap menemani saya disaat senggang, salah satunya adalah buku yang menceritakan mengenai kisah hidup seorang samurai handal yang bernama Miyamoto Musashi yang hidup di tahun 1600-an. Musashi yang dikenal sebagai "the lone samurai" ini merupakan seorang otodidak yang mampu secara cepat menyerap ilmu perpedangan hingga akhirnya mampu menjadikannya seorang samurai sejati. Ada beberapa prinsip yang diajarkan oleh Musashi ini yang cukup relevan dengan dunia pemasaran atau bisnis yang menurut beberapa penulis memang memiliki kesamaan dengan dunia perang. 


Prinsip tersebut adalah : 

1. Prinsip Pengenalan diri sendiri dan lawan. Prinsip ini mengajarkan kita untuk benar benar memahami mengenai keunggulan dan kelemahan diri kita dan lawan kita. Prinsip ini juga sama dengan prinsip yang diajarkan oleh Sun Tzu, seorang ahli strategi perang yang hidup di jaman Cina Klasik yang menyatakan bahwa pengenalan terhadap diri sendiri, lawan dan medan tempat terjadinya pertempuran merupakan awal dari kemenangan perang. Dalam berbisnis, kita mengenal adanya analisa SWOT yang mengharuskan kita bisa mengenalikekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadp diri kita baik oleh lawan ataupun lingkungan. Kitapun juga dituntut untuk melakukan competitive analysis yang mencoba untukmengupas tuntas strategi lawan, mulai dari produk, harga jual mereka, hingga strategi promosi yang mereka lakukan. Dan yang terpentingkita juga wajib mengenali secara rinci pelanggan kita. Nah Sudahkan anda menjalankan prinsip ini ? 


2. Prinsip Penguasaan Terhadap Fakta. Prinsip ini sebenarnya berkaitan erat dengan kemampuan kita dalam menganalisa situasi untuk mengambil keputusan. Fakta setidaknya akan menghindarkan kita dari kesalahan mengambil keputusan berdasarkan perkiraan atau asumsi semata. Dalam dunia usaha dikenal apa yang disebut Market research. Nah melalui market research ini kita dapat menggali fakta fakta yang ada dilapangan sebagai bahan kita dalam membuat strategi bisnis. Data yang akurat akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap pasar. Pemahaman terhadap data demografis dan psikografis konsumen akan memberikan masukan yang positif bagi pemasar dalam perancangan strategi komunikasinya. 


3.Prinsip Kemampuan Mengendalikan Pikiran Lawan. Prinsip ini pada dasarnya mengajarkan kita untuk tetap inovatif. Melakukan suatu hal yang tidak terduga, sehingga apa yang kita lakukan tidak dapat dengan mudah ditebak oleh lawan. Musashi mengajarkan kita untuk pandai dalam memprovokasi pikiran lawan, melakuan pengecohan hingga pembuyarkan konsentrasi lawan dan sebagainya. Program Diskon atau Program promosi berhadiah sebenarnya merupakan strategi untuk membuyarkan kesadaran konsumen. Tulisan diskon atau sale yang mencolok akan menyebabkan rasionalitas konsumen menjadi menurun dan tergesa gesa untuk segera membeli barang yang didiskon. Dalam iklan, kita sering melihat adanya artis yang memberikan testimoni terhadap suatu brand, hal ini sebenarnya juga merupakan strategi yang membuyarkan pikiran konsumen. Sadarkah anda bahwa selama ini pikiran anda telah dibuyarkan oleh prinsip yang diajarkan oleh Sang Samurai ? 


4.Pentingnya Timing. Timing atau yang dikenal juga dengan momentum ini memiliki daya dorong yang cukup besar untuk keberhasilan suatu pertempuran. Prinsip Timing ini dapat dicontohkan dengan maraknya iklan yang dipasang para retailer barang elektronik ataupun hypermarket pada hari Jumat atau Sabtu di Harian Kompas misalnya. Timing ini cukup tepat karena biasanya konsumen akan membelanjakan uang mereka pada week end dengan mengunjungi pusat pusat perbelanjaan.


5. Prinsip Berlatih dan terus berlatih. Untuk menjadi seorang expert diperlukan jam terbang.Demikian juga dalam bisnis. Jatuh bangun sudah merupakan hal yang biasa Namun yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi kejatuhan tersebut. Kalau tidak salah, pada tahun 1990an pernah dilakukan suatu penelitian di Jerman Barat yang menemukan bahwa untuk menjadi seorang expert di bidangnya diperlukan latihan selama 10 ribu jam. Jangan dikira brand brand market leader berdiam diri saat mereka telah menjadi pemenang, mereka terus mencari marketing tool terbaru dan mencobanya dalam marketing campaign mereka. Lihatlah Coca Cola yang terus inovatif dalam kampanye pemasarannya yang membuat kita berdecak kagum, seolah mereka tidak pernah kehabisan ide, Demikian juga dengan brand brand unilever yang terus melakukan inovasi terhdap produk produknya. DI Indonesia dulu hanya ada 1 varian Pepsodent, kini mereka memiliki belasan varian dan bahkan juga telah masuk ke area pasta gigi untuk pemilik gigi sensitive. Nah semoga pemaparan singkat ini dapat memberikan inspirasi untuk terus berkreasi dengan menjalankan ke lima prinsip sukses Musashi, sehingga bisnis anda akan semakin bertambah maju. 

 

RPTRA Arena Titik temu Masyarakat, Pemerintah dan Swasta

Selama ini saya sering mendengar kata RPTRA yang merupakan singkatan dari Ruang Publik Terbuka Ramah Anak dari kawan kawan aktifis penggiat kegiatan social. Dari apa yang mereka ceritakan serta dari apa yang saya browsing did dunia maya, memang  RPTRA sepertinya  memberikan  banyak manfaat bagi warga sekitar. Waktu berlalu dan saya juga telah lupa mengenai  RPTRA.  

Sampai suatu ketika saya diminta untuk menjadi salah satu juri lomba dalam rangkaian kegiatan Hari Anak Jakarta Membaca (HANJABA)  yang kebetulan diadakan di salah satu RPTRA di kawasan Jakarta Timur. Pada kesempatan ini akhirnya saya dapat melihat dan merasakan apa itu RPTRA secara nyata, bukan dari kata orang atau kata mbah Google. Nah mau tahu apa yang terjadi ?  


Kesan pertama sangat menggoda! Betapa tidak, meskipun berada didaerah permukiman padat, namun RPTRA dikawasan Cipinang Besar Utara  ini memiliki area yang cukup luas. Selain itu juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas permainan anak anak, perpustakaan , lapangan futsal, pepohonan dan taman yang terawat dengan baik serta bangunan serbaguna dan panggung atraksi yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk berbagai kegiatan. Kekaguman saya tidak berhenti disitu, konon biaya pembangunan dan pengadaan RPTRA ini dilakukan atas bantuan  pihak swasta, baik pembangunan  gedung maupun pengadaan fasilitas. 


Sebagai seorang praktisi marketing, saya melihat RPTRA ini merupakan “lahan” yang sangat bagus untuk mempromosikan suatu brand.  Apa yang saya rasakan , sepertinya juga dirasakan oleh para marketer dari KALBE, sehingga mereka melakukan branding secara apik terhadap lokasi ini. Disaat perang pemasaran makin menggila dan biaya pemasaran makin mahal, melakukan branding di suatu area semacam RPTRA ini memang dibutuhkan. Apalagi tempat ini semacam local community centre, dimana warga dari berbagai usia  bisa melakukan berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya, seperti membaca buku di perpustakaan, kegiatan belajar informal, bermain hingga berolahraga.  Dengan melakukan branding disini, artinya bukan hanya dapat menciptakan brand awareness semata, tetapi juga bisa menciptakan brand engagement dengan masyarakat sekitar. Masyarakat akan lebih mengenal produk sponsor dan berinteraksi dengan brand brand tersebut setiap hari, sehingga ada peluang yang cukup besar menjadikan komunitas di wilayah ini menjadi brand loyalist dari sponsor. 


Saya melihat di salah satu tiang terpampang  jadwal penggunaan lapangan futsal oleh setiap RW yang berada di wilayah kelurahan tersebut. Hal ini cukup menyejukkan, karena jadwal ini menunjukkan bahwa musyawarah masih hidup di dalam jiwa bangsa kita. Ada satu hal lainnya  yang juga membuat saya kagum, yaitu adanya peran serta kaum perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif.  Sepertinya  ada satu hal yang lupa saya sampaikan di awal. Did area RPTRA ini juga terdapat  sebuah ruang yang dijadikan  kios  yang bukan hanya menjual makanan dan minuman ringan semata, tetapi juga menjual barang barang kerajinan hasil karya dari para warga disekitar. Barang barang yang dijual juga ada yang mempromosikan budaya Jakarta. Seperti miniatur tugu monas serta pajangan kepala ondel ondel yang terbuat dari bahan fiber. 

Jadi RPTRA ini juga memiliki peran sebagai motor penggerak ekonomi usaha mikro did wilayah tersebut. Keterlibatan warga sekitar dalam pengelolaan fasilitas pemerintah ini juga mengingatkan saya pada bahan kuliah Community Organizing dan Community Development (CO/CD) yang saya terima belasan tahun yang lalu saat menjadi mahasiswa did FISIP UI.  Intinya,  agar suatu program dapat berjalan dengan baik dan berekesinambungan memerlukan peran serta aktif masyarakat sekitar.  Peran aktif ini  dapat terwujud  hanya apabila timbul rasa memiliki terhadap hal hal tersebut. 


Apa yang saya saksikan  di RPTRA Cipinang Besar Utara ini, membuat saya berani menyimpulkan bahwa  sepertinya pemerintah daerah  sudah berhasil menerapkan prinsip CO/CD tersebut dalam RPTRA ini. Semoga keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan fasilitas ini dapat terus berlanjut selamanya, bukan hanya di awal awal tahun berdirinya fasilitas ini saja. Apa yang dilakukan oleh pemimpin Jakarta ini dapat dijadikan contoh bagi kepala daerah lainnya di Indonesia, untuk membangun fasilitas serupa yang memang dibutuhkan masyarakat. RPTRA ini  memperlihatkan bahwa pemerintah bisa menggandeng swasta dan melibatkan masyarakat dalam melaksanakan program programnya. Ayo Bangun Indonesia bersama sama !